Authenticity
Networking untuk Introvert: Cara Mulai Tanpa Terkuras
Introvert bisa networking tanpa terkuras dengan merencanakan energi, bukan memaksa diri jadi ekstrover. Pilih ruangan kecil, siapkan dua pertanyaan yang memindahkan giliran bicara ke lawan bicara, dan tentukan jam pulang sebelum berangkat. Riset menunjukkan introvert cenderung salah menebak perasaannya: bersikap aktif sebentar ternyata lebih menyenangkan dari perkiraan mereka.
Pukul tujuh kurang sepuluh, Hanif berdiri di depan ballroom sebuah hotel dekat Simpang Lima, Semarang. Tumbler kopinya sudah kosong. Itu tumbler ketiga hari ini.
Hanif berusia 38 tahun, pemilik studio desain kemasan. Kacamata bulat, kemeja flanel dengan lengan digulung dua kali, dan empat puluh lembar kartu nama yang ia masukkan ke tas sejak pagi, “biar niat”. Dari balik pintu kaca terdengar tawa, gelas beradu, dan seseorang berseru, “Pak Hanif! Akhirnya datang!” Hanif tersenyum, mengangguk, lalu masuk.
Dua puluh menit kemudian ia sudah berdiri di dekat meja lumpia, memegang piring dengan satu potong tersisa. Ia sudah bicara dengan tiga orang. Dua kali ia bilang, “Wah, seru ya acaranya.” Satu kali ia bilang, “Saya ke toilet dulu.” Toilet itu ia pakai untuk berdiri sendirian selama empat menit.
Pukul tujuh lewat dua puluh, Hanif keluar lewat pintu samping. Di dekat pintu itu seorang bapak sedang menelepon, “Iya, saya lagi cari yang bisa bikin kemasan buat lini baru. Nanti saya kabari.” Hanif mendengarnya jelas. Ia hanya menggeser badan, mengangguk sopan, dan lewat.
Di mobil ia menyalakan mesin dan bergumam, “Gue udah hadir, kan? Ya udah.”
Deg. Di lampu merah Jalan Pandanaran, Hanif baru ingat wajah bapak tadi. Wajah itu ada di slide sponsor acara: pemilik jaringan toko oleh-oleh yang sedang membuka lini baru.
Kalau Anda pernah merasakan apa yang dialami Hanif, Anda nggak sendirian. Pulang dari acara dengan kepala berdengung. Kartu nama masih utuh. Merasa harus “menyala” padahal baterai sudah tinggal sedikit. Lalu menyimpulkan, “Networking memang bukan untuk saya.”
Kenapa networking terasa menguras bagi introvert?
Sampai di sini, bagaimana tebakan Anda? Kalau Hanif memaksa dirinya ngobrol lebih banyak, ia pasti pulang lebih tersiksa lagi kan? Harusnya dooonng.
Tapi ternyata, faktanya, nggak juga.
Psikolog John Zelenski dan timnya dari Carleton University, Kanada, meneliti pertanyaan ini. Hasilnya diterbitkan tahun 2013 di Journal of Personality and Social Psychology. Mereka menemukan bahwa orang introvert mengalami apa yang disebut affective forecasting error, yaitu salah menebak perasaan sendiri. Saat diminta membayangkan bersikap ekstrover (mengambil inisiatif, ngobrol, aktif), orang introvert memperkirakan akan merasa kurang senang, lebih tegang, dan lebih canggung dibanding orang ekstrover.
Lalu mereka diminta menjalaninya sungguhan. Hasilnya: orang introvert ternyata menikmati bersikap aktif lebih dari yang mereka tebak sendiri. Bukan kemampuannya yang kurang. Ramalannya yang keliru.
Jadi yang menahan langkah Hanif bukan sifatnya. Yang menahan langkahnya adalah ramalan di kepalanya.
Lalu kenapa tetap capek? Di sini teori preferensi MBTI membantu. Dalam MBTI, Introversion dan Extraversion bukan soal berani atau pemalu. Keduanya soal ke mana perhatian diarahkan dan dari mana energi diisi. Orang dengan preferensi Extraversion mengarahkan perhatian ke luar, ke orang dan kejadian di sekitarnya, dan energinya terisi lewat interaksi. Orang dengan preferensi Introversion mengarahkan perhatian ke dalam, ke pikiran dan kesannya sendiri, dan energinya terisi saat ada waktu tenang.
Jadi introvert bukan nggak bisa networking. Interaksi yang ramai memang lebih cepat menghabiskan energinya, dan itu normal. Dua hal bisa benar sekaligus: momen singkat dan kelompok kecil bisa terasa menyenangkan, sementara satu malam penuh di ballroom tetap melelahkan. Penelitian Zelenski mengukur momen-momen singkat, bukan semalam suntuk. Pesannya bukan “paksa diri jadi ekstrover”. Pesannya: sesuaikan gaya networking dan ukuran interaksi Anda.
Anda sudah datang ke acaranya. Anda sudah membawa kartu nama. Anda bahkan sudah berlatih senyum di spion mobil.
Kurangnya cuma satu.
Anda belum punya rencana yang menghormati baterai Anda.
Bagaimana mulai networking tanpa terkuras?
Saya menyebutnya Paket Hemat Energi. Tiga bagian, semuanya disiapkan sebelum Anda berangkat.
1. Pilih ruangan kecil. Di buku Tak Kenal Maka Tak Cuan, langkah pertama GROW adalah Grounding: memilih ruangan mana yang paling cocok untuk Anda dikenal. Introvert punya alasan tambahan. Ballroom dengan ratusan orang bukan satu-satunya ruangan yang sah. Rapat komunitas kecil, makan siang enam orang, atau pertemuan bulanan di kafe, patokan saya sekitar dua belas orang, justru memberi Anda ruang untuk benar-benar bicara.
2. Siapkan dua pertanyaan. Dari Good Questions di buku, pilih dua yang paling nyaman di mulut Anda. Satu soal perjalanan: “Gimana ceritanya Bapak/Ibu mulai di bisnis ini?” Satu soal yang sedang membuat orang bersemangat: “Apa yang lagi bikin Anda excited belakangan ini?” Dengan dua pertanyaan ini, Anda nggak perlu pusing memikirkan kalimat berikutnya. Giliran bicara pindah ke lawan bicara, dan tugas Anda tinggal mendengarkan dan mengingat satu detail.
3. Tentukan jam pulang dulu. Tulis di kalender: “Pulang pukul 19.40, setelah dua obrolan.” Pulang yang sudah direncanakan beda dengan kabur. Yang pertama membuat Anda boleh hadir sepenuh hati sampai jam itu. Yang kedua, seperti yang dilakukan Hanif lewat pintu samping, membuat Anda menyesal di lampu merah.
Satu hal lagi: Paket Hemat Energi nggak meminta Anda jadi orang lain. Anda tetap tenang, tetap pendengar, tetap diri sendiri. Yang berubah hanya ukuran ruangannya.
Kamis berikutnya, Hanif datang ke makan malam komunitas di sebuah kafe di Kota Lama. Sembilan orang. Jam pulangnya ia tulis di kalender: 20.15. Pertanyaan pertama ia ajukan ke orang di sebelahnya, dan ternyata orang itu bisa bercerita dua puluh menit tanpa jeda. Hanif cuma mengangguk dan sesekali bertanya, “Terus gimana?”
Di sesi kedua, ia ngobrol dengan penyelenggara acara minggu lalu. Si penyelenggara tiba-tiba teringat sesuatu. “Pak Hanif, bapak pemilik toko oleh-oleh itu kemarin nanya soal kemasan lagi. Nomor Bapak saya kasih, ya?”
Pukul 20.15 tepat, Hanif pulang. Kartu namanya tersisa tiga puluh sembilan lembar. Satu orang sudah tahu ia ada. Ternyata itu cukup.
Apa yang bisa dicoba minggu ini?
Mari kita coba ini. Cukup tiga langkah, dan semuanya bisa dilakukan dari ponsel Anda.
- Buka kalender. Cari satu pertemuan kecil dalam dua minggu ke depan, tempat Anda bisa bertemu sekitar sepuluh orang atau kurang.
- Tulis dua pertanyaan Anda di catatan ponsel, dan tentukan jam pulang. Masukkan jam itu ke kalender.
- Lakukan Tes Tebakan: sebelum berangkat, tulis tebakan Anda, seberapa menguras acara ini dari skala 1 sampai 10. Sesudah pulang, tulis skor yang sebenarnya.
Bandingkan kedua angkanya. Seperti penelitian Zelenski, Anda sedang menguji ramalan Anda sendiri. Kalau ternyata skornya lebih rendah dari tebakan, Anda baru saja mendapat data bahwa ramalan itu perlu direvisi. Kalau skornya tetap tinggi, itu juga data yang berharga: berarti ruangan atau jam pulangnya perlu disesuaikan, bukan Anda yang perlu diperbaiki.
Kalau setelah itu Anda ingin tahu bagaimana mengubah kenalan baru jadi hubungan yang bertahan, mulailah dari kenapa networking Anda tidak menghasilkan apa-apa. Dan kalau Anda masih ragu apakah kehadiran yang tenang bisa terasa kuat, baca karisma profesional bisa dilatih. Gambaran besarnya ada di cara membangun networking bisnis yang benar-benar bekerja.
Hanif masih menyimpan tumbler ketiganya, yang sekarang jadi tumbler pertamanya setiap kali berangkat ke acara. Katanya itu jimat.
You don’t need a louder voice. You need a smaller room. Anda nggak butuh suara yang lebih keras. Anda butuh ruangan yang lebih kecil.
Hari ini, buka kalender Anda dan pilih satu pertemuan kecil. Kalau Anda ingin berlatih membuka obrolan bersama sesama founder dalam ruangan yang kecil dan aman, Founders Circle sedang membuka daftar tunggu. Atau mulai percakapan 20 menit dengan saya.