Co-profit
Cara Membangun Networking Bisnis yang Benar-benar Bekerja

Cara membangun networking dalam bisnis yang benar-benar bekerja dimulai dari urutan yang benar, bukan dari banyaknya acara yang Anda datangi. Tentukan dulu siapa yang perlu Anda kenal, datang untuk memberi lebih dahulu, rawat dengan perhatian kecil yang berulang, jelaskan nilai Anda dengan jelas, lalu rapikan semuanya menjadi ritme yang berjalan tanpa Anda pikirkan.
Jam sembilan malam, di parkiran sebuah coworking space di Kemang, Gilang duduk di jok motornya dan mengeluarkan dompet kartu nama dari saku hoodie abu-abunya. Ia menghitung. Empat puluh tujuh kartu. Semua dari acara bulan ini.
Gilang founder aplikasi kasir untuk kedai kopi kecil. Umurnya dua puluh sembilan, timnya lima orang, dan tiga bulan terakhir ia memaksa diri jadi orang yang “rajin networking”. Tiga acara seminggu. Startup meetup Selasa, komunitas UMKM Kamis, business breakfast Sabtu pagi.
Malam itu, seorang kenalan dari acara tadi mengirim pesan.
“Bro, tadi lo yang bikin aplikasi apa ya? Ada temen gue punya kedai, siapa tahu butuh.”
Gilang tersenyum. Lalu senyumnya pelan-pelan hilang. Ia sudah menjelaskannya tadi. Dua kali.
Kalau Anda pernah merasakan apa yang dialami Gilang, Anda nggak sendirian. Acaranya didatangi. Kartu namanya habis. Orang yang dikenal nggak sedikit. Tapi setelah pulang, Anda nggak tahu harus ngapain, dan orang yang Anda temui pun nggak ingat Anda siapa.
Cara membangun networking bisnis yang benar-benar bekerja dimulai dari urutan yang benar, bukan dari banyaknya acara yang Anda datangi.
Kenapa networking bisnis sering terasa buntu?
Sampai di sini, bagaimana tebakan Anda? Gilang kurang supel? Kurang jago presentasi? Harusnya datang ke acara yang lebih elit?
Tapi ternyata, faktanya, nggak juga.
Masalah Gilang ada pada apa yang terjadi di antara acara. Atau lebih tepatnya, apa yang nggak terjadi.
Gillian Sandstrom dan Elizabeth Dunn dari University of British Columbia meneliti obrolan kecil dengan orang yang hanya “kenal biasa”, yang dalam penelitian disebut weak ties: barista langganan, tetangga kantor, teman satu komunitas. Mereka meminta peserta mencatat interaksi hariannya. Hasilnya, di hari-hari ketika peserta lebih banyak menyapa kenalan biasa, mereka merasa lebih bahagia dan lebih terhubung dengan sekitarnya. Penelitiannya terbit di jurnal Personality and Social Psychology Bulletin.
Di buku, saya membahas bagaimana sosiolog Mark Granovetter menemukan bahwa peluang justru sering datang dari kenalan longgar seperti ini. Sandstrom dan Dunn menambahkan sisi lainnya: hubungan longgar itu hidup lewat sapaan kecil yang diulang, bukan lewat satu pertemuan besar.
Sementara itu, kebanyakan dari kita menjalankan networking dengan tiga kebiasaan yang terbalik:
Mulai dari kebutuhan sendiri. Datang ke acara sambil bertanya dalam hati, siapa di sini yang bisa jadi klien saya. Orang menangkapnya dalam hitungan menit. Mereka tetap ramah, tapi obrolan berhenti di basa-basi.
Berhenti tepat setelah acara. Pertemuan pertama berjalan baik, lalu tidak pernah disentuh lagi. Padahal nama Anda melekat bukan di pertemuan pertama, tapi di pertemuan berikutnya.
Tidak jelas harus mengirim siapa ke Anda. Jawaban “kerja di bidang apa” terdengar seperti daftar kemampuan. Lawan bicara mengangguk sopan, tapi nggak ada satu kalimat pun yang bisa ia ulangi ke orang lain.
Anda sudah datang ke banyak acara. Anda sudah membagikan kartu nama. Anda bahkan sudah berani menyapa orang asing duluan.
Kurangnya cuma satu.
Tidak ada yang terjadi setelah acaranya selesai.
Bagaimana cara membangun networking bisnis langkah demi langkah?
Di buku Tak Kenal Maka Tak Cuan, saya menyebut urutannya GROW: Grounding, Reaching, Offering, Winning. Ini versi praktisnya.
G, Grounding: tentukan lingkaran Anda lebih dulu. Tulis nama orang yang paling berpengaruh bagi bisnis Anda hari ini. Bukan seluruh kontak di ponsel, cukup lingkaran kecil yang benar-benar menentukan. Untuk setiap nama, catat sudah sampai mana hubungannya: baru kenal, sudah nyaman, sudah percaya, atau sudah pernah bekerja bersama. Daftar pendek bisa dirawat sampai selesai. Daftar panjang cuma bikin merasa bersalah.
R, Reaching: datang untuk memberi, lalu rawat dengan perhatian kecil. Sebelum membuka percakapan, putuskan satu hal yang bisa Anda berikan: informasi, pengalaman, akses, atau satu nama yang mungkin berguna. Saat ngobrol, beri perhatian penuh, ingat namanya, catat satu hal yang ia ceritakan sendiri. Dua atau tiga hari kemudian, kirim pesan pendek yang menyebut hal itu. Inilah sapaan kecil yang dibicarakan Sandstrom dan Dunn. Nggak perlu panjang, nggak perlu menawarkan apa pun.
O, Offering: rumuskan nilai Anda dalam satu kalimat. Banyak hubungan berhenti bukan karena orang nggak suka Anda, tapi karena ia nggak tahu kapan harus menyebut nama Anda. Bikin satu kalimat tentang masalah yang Anda selesaikan dan untuk siapa. Gilang misalnya: “Saya bikin aplikasi kasir buat kedai kopi yang masih nyatat penjualan di buku.” Satu kalimat yang bisa diulang orang lain jauh lebih berharga daripada daftar fitur satu halaman.
W, Winning: jadikan ritme yang menguntungkan semua pihak. Tiga langkah tadi hilang dalam dua minggu kalau nggak jadi kebiasaan. Pilih satu atau dua nama tiap minggu, hubungi tanpa meminta apa pun, tanyakan kelanjutan cerita yang pernah ia sebut, atau kirimkan perkenalan yang berguna untuknya. Ritme inilah yang membuat Anda tetap hidup di kepala orang saat peluangnya muncul. Bagaimana jaringan seperti ini bertahan bertahun-tahun, saya tulis di jaringan yang bertahan dibangun jauh sebelum dibutuhkan.
Hati-hati dengan satu jebakan: begitu daftar nama itu terasa seperti proyek yang harus diselesaikan, nada bicara Anda ikut berubah. Daftar itu alat bantu ingatan, bukan target penjualan.
Kalau semua ini terasa terlalu banyak, mulailah dari G saja. Semua langkah berikutnya bergantung pada satu hal: Anda tahu hubungan siapa yang sedang Anda bangun.
Seperti apa tanda networking Anda sudah mulai bekerja?
Biasanya nggak langsung kelihatan. Orang mulai menyebut nama Anda saat ada peluang, walau Anda sedang nggak mencari. Ada yang bertanya kabar tanpa membawa kepentingan. Ada yang mengirimkan perkenalan sebelum Anda memintanya. Kalau setelah berbulan-bulan tanda ini belum juga muncul, baca kenapa networking Anda tidak menghasilkan apa-apa.
Gilang akhirnya memangkas jadwalnya jadi satu acara seminggu. Sisanya ia pakai untuk hal yang dulu ia anggap remeh: membalas, menyapa, mengirim artikel yang ia janjikan. Ia juga mengganti perkenalannya jadi satu kalimat soal kedai kopi yang masih mencatat di buku.
Enam minggu kemudian, pesan masuk dari kenalan yang dulu lupa aplikasinya. Kali ini bukan bertanya. Isinya tiga nomor pemilik kedai, dengan satu kalimat: “Udah gue ceritain, mereka nunggu lo.”
Networking is not about collecting contacts. It’s about planting relationships. Networking bukan soal mengumpulkan kontak, tapi menanam hubungan.
Mari kita coba ini hari ini. Buka daftar kontak Anda, pilih satu nama yang sudah lama tidak Anda sapa, lalu kirim satu pesan tanpa meminta apa pun. Kalau Anda ingin membangun kebiasaan ini bersama founder lain yang saling menguatkan ritmenya, Founders Circle sedang membuka daftar tunggu. Atau mulai percakapan 20 menit untuk memetakan lingkaran Anda.